Pages

Kamis, 24 Juni 2010

(RED) Part 6: Shiroi [blank]

Grace yang tiba-tiba muncul dengan wujud Desta merapat ke dinding, membiarkan Shiroi untuk melangkah terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi Mia. Mereka berusaha melangkah tanpa suara sehingga kemunculan Shiroi cukup membuat Sierra yang baru keluar dari ruangan tanpa menutup pintu ruang Konseling terkejut. Namun, Shiroi lebih terkejut lagi saat kalung yang dipakai Mia sudah ada di tangan Sierra, lengkap dengan ekspresi Sierra yang gugup dan menangis. Ia hendak pergi, namun tubuhnya membeku saat melihat Shiroi.


“Kembalikan.”

“I…ini…pemberianmu?” Tanyanya sambil memberikan kalung itu.

“Ya...karena aku tidak mau tahu siapa yang akan membunuh majikanku.”

“Aku...”


*PLAAAK*


Seorang gadis muncul dan langsung menampar Sierra. Shiroi langsung masuk ke ruangan Konseling dan terkejut saat menemukan tubuh “nona besarnya” sudah membeku seakan tidak bisa bergerak lagi. Namun, detak jantungnya masih ada. Lantas Shiroi menggendongnya ke ruang loker. Di koridor, anak-anak yang lain tampak terdiam, lalu perlahan mengikuti dengan berpencar. Sementara Grace menghadapi Sierra untuk membalas rasa sakit hatinya.


“Desta?! Kamu tahu apa sebagai adik kelas hah?!”

“Kamu juga tahu apa sebagai pengincar harta?!”


Perlahan bola mata Desta berubah menjadi cokelat terang. Ia melayangkan beberapa serangan ke arah Sierra.


“KAMU SIAPA?!”

“Grace…”


Gadis itu menonjok muka Sierra. Fisik Desta yang terbiasa bergerak agak lamban memang agak tidak nyaman untuk melakukan berbagai serangan. Namun apa boleh buat, keadaan sempit dan hanya inilah yang bisa Grace lakukan, demi “adiknya” dan demi keluarga yang ia sayangi.


“Kamu pikir aku akan minta maaf semudah itu? JANGAN HARAP!”

“JANGAN HARAP AKU AKAN MEMAAFKANMU JUGA!!!”


Serangan demi serangan mengenai tubuh Desta, bagian lengan akhirnya dikorbankan untuk tersayat. Grace meringis sakit, namun ia kembali mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu saat nyawanya diincar. Akhirnya, ia bisa melancarkan serangan dan menutup saluran nafas Sierra. Berakhir dengan jatuhnya tubuh Sierra ke lantai dengan keras, namun ia masih hidup.


“Grace…”

“Aku sudah memaafkanmu…kau juga masih pantas untuk hidup…”

“Gra…ce…”

“Lupakan…lupakan masa lalumu…lupakan perintah itu…”


Grace menatap mata yang perlahan menyipit itu lekat, ia berencana akan mengubah identitas orang itu. Agar suatu saat tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak ia inginkan.

***

Shiroi mencoba untuk berkomunikasi dengan Rio. Tampaknya, semua temannya seperti tengah dikontrol oleh seseorang. Karena tidak sabaran, ia akhirnya menjitak Rio agar mengikutinya dengan cara biasa, bukan mengendap-endap seperti penjahat. Namun, cara itu akhirnya berhasil menyadarkan Rio dan anak-anak yang lainnya. Pada akhirnya, mereka hanya bisa bertanya-tanya saat seseorang muncul di depan mereka.


“Ayah?”

“Shiroi…bisa serahkan perempuan itu?”

“…?”

“Arie, Nel…paksa dia!”


Ayah angkat Shiroi akhirnya menghilang pergi saat dua orang itu menyerang, namun dihadang Rio dan Rika. Akhirnya, mereka bekerjasama dan dua orang itu berhasil dikalahkan. Lalu, Shiroi membawa Mia ke ruang loker diikuti Grace dan Sierra yang setengah tidak sadar. Lalu, ia mengalungkan kembali kalung itu dan menelpon supir pribadi Mia untuk membawanya ke rumah sakit terdekat.

***

“Shiroi, bawa Mia ke rumah sakit di sekitar perkantoran. Sierra, ikut aku!”

“Ki…kita kemana?” Sierra tampak kelelahan.

“Salon.”


Sierra terdiam sejenak saat Leon melambaikan tangannya ke arah Grace, namun perempuan itu balas melambai walaupun ia tidak tahu mengenai hubungan Desta dan Leon.


“Grace…”

“…?”

“Kamu mau apa? Janji nggak akan membunuhku!”

“Nggak…aku nggak akan menyerang kalau kau tidak menyerang duluan, Mia juga seperti itu…mengerti?”

“…Ya…akhirnya aku tahu kalau semua ini sia-sia.”

“Jangan kembali ke rumahmu, di dekat rumahku ada sebuah rumah kosong…jangan kembali ke keluargamu…lupakan mereka.”

“Ke…napa?”

“Asal kau tahu…mungkin ada banyak rahasia yang dipendam orangtuamu tentang kau.”

“…”

“Nanti saja, kita tidak punya banyak waktu!”


Mereka langsung berlari menembus jalan tikus (jalan pintas yang sempit) menuju pusat kota. Tak lama kemudian mereka membaur dengan orang-orang yang pergi ke mal untuk berbelanja dan masuk ke salon yang berada di lantai tiga mal tersebut.

***

Rika yang ikut ke rumah sakit segera masuk ke ruang Unit Gawat Darurat. Di sana, Mia langsung dibawa ke ruang ICU dan segera ditangani oleh beberapa dokter spesialis syaraf. Beberapa saat Rika menunggu, belum ada dokter yang keluar juga. Namun, saat Shiroi muncul dari ruangan ICU, tampaknya Rika menduga ia takkan memberikan kabar baik.


“Shiroi?”

“Tampaknya…kita harus kehilangan dia.”

“Ma…Maksudmu?”

“Kondisinya masih kritis dan…”

“…Apa?”

“…Mia kehilangan ingatannya, seperti data yang terhapus bersih.”

“A…Apa?!”


Rika tampak kaget, namun ia tak bisa membayangkan juga jika teman-temannya dan keluarga Mia mengetahui hal ini, terutama Desta. Gadis itu langsung terduduk di lantai dan menahan beban dengan tangannya. Sesaat kemudian, ia menatap Shiroi dengan pandangan penuh kecurigaan.


“Kamu nggak bohong kan?”

“Nggak…aku dengar dari dokter yang menanganinya tadi.”


Rika meraih kursi tunggu dan perlahan ia duduk kembali di kursi itu. Matanya menangkap sesuatu di tas Mia yang tadi dibawanya. Hanya Rika yang tidak terpengaruh “hipnotis” yang membuat seluruh temannya berkelakuan aneh, dan dia tahu kalau Shiroi hanya berpura-pura terhipnotis saat kejadian itu terjadi. Termasuk Desta, gadis itu tidak menyadari apapun sekalipun sejak tadi ia dan Mia berada di ruang musik bersama Rika. Di dalam tas itu terdapat sebuah buku tebal. Sekilas, Rika melihat catatan yang berada di dalamnya, lalu ia menyerahkan buku itu kepada Shiroi.


“Ini…mungkin bisa membantu.”

“Benturan di kepala…”

“…Kamu ngomong apa sih? Ini buku hariannya.”

“Ng…maaf, aku agak kepikiran…”

“Nih, kalau sekalian mau bantu juga.”

“Bantu?”

“Mengembalikan ingatannya.”

“…Belum tentu…belum tentu namanya sekalipun ia ingat…”

“Hubungi ibunya…aku mau bicara.”

“Kenapa?”

“Aku tahu walaupun ia bukan anggota keluarga yang asli, ia tetap membutuhkan bantuan mereka.”

“…”

“Aku harap…ingatannya bisa cepat kembali dengan semua ini…”

“Kau ingin mencuci otaknya?”

“Nggak…tapi aku ingin dia bisa mengingat kita lagi…Kau sendiri tidak mau kehilangan dia ‘kan?”

***

“Graace…ini siapa yang bayaar?” Sierra mulai kesal dengan sikap Grace yang diam saja saat rambutnya mulai dipotong pendek, dicat, dan diluruskan.

“Aku…udah deh, aku yang tanggung semuanya!”

“Nggak pakai uang Desta kan?”

“Nggak lah…aku juga masih punya simpanan tahu!”


Beberapa saat kemudian, proses selesai dan Grace berbisik ke pemilik salon untuk soal bayarannya. Salon ternama itu memang pasang tariff sesuai dengan hasil kerjanya. Karena itu, asalkan pengunjung bilang kalau hasilnya sempurna, otomatis tarif yang diberlakukan juga ikut naik. Setelah memberikan sesuatu kepada pemilik salon, Grace dan Sierra segera turun lewat tangga darurat.


“Sekarang kita ke mana?”

“Spesialis bedah plastik.”

“HAH?! Emang mukaku segitu ancurnya ya?” Kata Sierra sambil menengok kanan-kiri ke kaca yang tembus pandang di depan sebuah butik.

“Nggak, kamu tadi kena pukulan beberapa kali…juga untuk proses selanjutnya.”

“Maksudmu?”

“Hanya interogasi kecil, tidak usah khawatir.”

“Kau…”

“Ya, hari sudah semakin malam dan aku belum tahu kondisi Mia sekarang, selain itu aku juga belum menjelaskan tentang ambisi keluargamu.”

“Ambisi?”

“Ya…kau ini sebenarnya anak angkat, sama dengan Mia.”

“Anak…angkat?!”

“…Ya, sebenarnya wajahmu tidak familiar di otakku.”

“Lalu…kau juga menerapkan hal yang sama pada Mia?”

“Nggak, pada dasarnya ia juga mempunyai kedudukan yang sama denganku sebagai pewaris sebuah keluarga…tapi aku ingin masalah dengan keluargamu cepat selesai.”

“…”

“Kau sudah dicuci otak…Sierra, nama aslimu adalah Teera.”

***

“Belum sadar juga?”


Rika yang memakai pakaian seperti di ruang operasi membetulkan letak kacamatanya. Walaupun Mia belum sadar juga, ia tetap menunggu bersama Shiroi dan dokter yang lain sambil menunggu “kepulangan” Desta.


“Butuh waktu yang agak lama…” Kata salah seorang dokter.

“Sampai malam ini juga?”

“…”

“Apakah ingatannya benar-benar terhapus sejak ia masih kecil…atau…”

“Tidak…mungkin ia akan mengingat hal yang ingin diingatnya dan melupakan hal yang ingin ia lupakan.”

“Apa ia akan melupakan teman-temannya?”

“Belum tentu…kalau ia sadar, pertanyaan yang harus kalian ajukan…”

“Apa?”

“…’Siapa namamu?’ cukup seperti itu, untuk hal lain…kami serahkan pada kalian sebagai teman dekatnya.”

“Ng…terima kasih…Dok…”


Rika menatap wajah Mia, ia tampak tertidur. Tapi, bukan berarti ia takkan mengingat apa pun. Mia yang sekarang ini lebih mirip seseorang yang mencoba untuk mengingat masa lalunya…hanya hal itu yang terbaca di benak Rika. Sementara itu, Shiroi masih sibuk membaca buku harian Mia (yang lebih mirip sebuah buku cerita) dan sesekali ia tersenyum, namun kadang wajahnya berubah saat membayangkan keadaan Mia saat ia tengah kesepian di kamarnya, karena seluruh ingatannya tampak dimemorikan di buku itu.

***

“Ini rumah barumu, Seera.”


Wajah gadis itu tampak cerah, seakan melihat harapan barunya di malam yang semakin gelap. Wajahnya lebih cerah daripada saat ia masih beridentitas sebagai Sierra, tampaknya ia mulai mengingat masa lalunya dan ingin menemui seseorang yang dirindukannya.


“Terimakasih…aku berhutang banyak padamu, Grace.”

“Ada dua pembantuku yang siap melayani, kau juga punya pekerjaan sampingan sekarang.”

“Terimakasih…kau sudah menolongku…”

“…”

“Sampaikan permintaan maafku pada Mia, Sierra memang…”

“Sebaiknya kau tidak mengingat itu lagi.” Kata Grace tegas. Ia tidak mau kalau sampai sosok Sierra itu kembali. Selain itu, perempuan ini sebenarnya ingin “kembali” ke masa lalunya setelah ia mengetahui tentang obsesi keluarga angkatnya.

“Perkenalkan…nama asliku Desta, panggil saja aku begitu…”

“…”

“Ya…dia suka main ke sini…dengan Shiroi dan Mia, ke kebun mawar di samping rumah ini.”

“Em…aku jadi ingat laki-laki itu…”

“Siapa?” Grace berharap perempuan ini tidak akan menyebut nama Shiroi lagi.

“Seorang kakak yang tidak ingin diakui oleh adiknya…Shuri namanya”

“Baiklah…aku akan pergi sekarang. Masuklah ke rumah barumu, kau aman sekarang.”

“Tapi orang itu…”

“Kalau kau ingin bertemu dengan dia…tunggu sampai ingatan Mia kembali, ia bisa menolongmu untuk mencari orang itu…”

“Baik! Makasih ya…”


Grace mengangguk. Lalu, ia berlari dan menjatuhkan diri di bangku taman. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Lima detik sejak ia pingsan, lalu terbangun lagi sebagai Desta.


“Di mana aku?”

Perempuan itu langsung meraih telepon genggamnya.

“Leon…jemput aku di rumah Mia.”

“Baik!” Kata suara di seberang.

“Bagaimana…keadaan Mia?”

“Belum sadar…aku di rumah sakit sekarang.”

“HAH?! Jadi…”

“Aku jemput kau sekarang.”

***

Berkat Desta, Leon akhirnya terpaksa menunggu di luar ruang ICU sambil menjaga barang-barang milik Desta, termasuk tas berisi gitar akustiknya. Sementara di ruang ICU sendiri, dokter akhirnya menyatakan bahwa sebentar lagi Mia akan sadar, karena detak jantungnya sudah normal dan keadaannya sudah membaik. Akhirnya, ia dibawa ke ruang VIP rumah sakit oleh beberapa perawat yang juga menanganinya. Hari sudah mulai malam saat anak-anak itu baru boleh masuk ke ruangan setelah menghubungi orangtua mereka masing-masing. Sementara itu, Leon memilih menunggu di luar sambil memandangi taman di depan ruangan itu. Di dalam ruangan, lima menit mereka menunggu yang terasa cukup lama bagi mereka. Akhirnya, Mia mulai bisa membuka matanya dan melihat orang-orang yang di sekitarnya dengan jelas.


“Siapa namamu?” Tanya Shiroi sesaat setelah gadis itu memandangi sekitarnya termasuk pakaiannya.

“…” Mia membisu, ia tidak tahu harus berkata apa.

***

Beberapa hari sebelumnya…

Mia tampak menunggu bis yang lewat di halte sambil membaca buku catatan biologinya. Sejenak ia menatap jalan yang cukup ramai saat angin berhembus agak kencang. Pembatas bukunya terbang dan membentur sebuah tiang rambu lalu lintas. Saat ia mengambil pembatas buku itu, tempat duduknya tadi ada yang menduduki. Mia pun duduk di samping perempuan itu. Dari sosoknya, wanita itu tampak dewasa seperti layaknya orang yang baru selesai kuliah di kampusnya.


“Ini…Mia ‘kan?”

“Iya…kakak siapa?”

“Aku…Lyna, sengkatan dengan Grace dulu…kenapa kau sendirian?”

“Aku menunggu bis yang lewat, aku ada keperluan yang agak mendadak. Jadi aku tidak dijemput ataupun pulang bersama teman-teman.”

“Oh…Grace mana?”

“Kak Grace sudah…” Mia tidak melanjutkan ucapannya, ia terdiam.

“…Kamu nggak bilang kalau yang bunuh diri di depan kantor ayahnya itu dia kan?”

“Kakak mungkin lebih tahu soal Kak Grace.”

“…?”

“Iya…Kak Grace sebenarnya dibunuh…”

“Apa maksudmu? Bukankah adik ini teman baiknya?”

“Ya…karena Kak Grace sebenarnya menderita …”

“Psikologis?”

“Iya, kakak temannya?”

“Begitulah…Grace tidak pernah menganggapku sebagai temannya.”

“Tapi…Kakak bilang ia tidak punya teman, dulu kami berkenalan di sini saat aku akan pulang ke rumah.”

“…Sikapnya angkuh, akhirnya kami jadi segan mendekatinya.”

“Kakak sebenarnya nggak sesombong yang orang duga, menurutku…kakak baik hati dan mau terbuka kepada siapapun yang dianggapnya sebagai teman.”

“Ya…andai kami bisa bersabar saat itu, mungkin ia akan mempunyai banyak teman.”

“Sabar?”

“Ya…waktu itu kami hanya menganggapnya murid pindahan yang harus dipaksa bersosialisasi.”


Mia menengadah, di seberang jalan ia melihat sesosok orang yang sangat mirip dengan Shiroi. Pakaiannya putih-putih, sepertinya ia adalah seorang dokter. Orang itu lebih tinggi sedikit dari Shiroi dan pembawaannya terlihat tenang. Tak lama, orang itu menyebrangi jalan dan duduk di samping Mia.

***

Suasana masa lalu, sebuah gedung sekolah yang mirip dengan gedung sekolah Mia sekarang. Namun, orang-orang di sana tampak ramai dan tengah menunggu seseorang. Sesaat kemudian, mereka masuk ke sebuah kelas yang cukup luas. Tak lama, seorang murid baru masuk ke kelas itu.


“Selamat pagi…teman-teman, namaku Grace, aku pindahan homeschooling dan akan mulai belajar di sini…terima kasih.”


Anak-anak itu malah sibuk mengobrol, tidak ada yang menanggapi suara anak itu. Sejenak, anak itu merenggut rok bercorak kotak-kotaknya. Lalu ia berteriak.


“KALIAN MENDENGARKU TIDAK? AKU GRACE, PEWARIS KELUARGA GRACEWEALTH!!!”


Semuanya tiba-tiba terdiam. Lalu, Grace langsung duduk di sebuah bangku yang kosong. Tak lama, ia menangis walau suara tangisannya tidak terlalu terdengar sementara murid-murid lain malah mentertawakannya.

***

Setelah bertanya dengan pertanyaan yang sama sebanyak tiga kali, Shiroi yang masih belum menyerah dengan membisunya Mia kembali mengulang pertanyaan yang sama.


“Siapa namamu?”


Mia tampak seperti mengingat sesuatu, namun ia seperti ketakutan melihat wajah Shiroi. Ia mencoba membuka mulutnya dan mengatakan sesuatu, namanya.


“Mi…Mia…Mia Concourie…Concourie…Mia Concourie…” Katanya berulang ulang.

“Kau tahu…siapa aku?”


Mia menggeleng. Wajahnya masih tampak ketakutan, dalam kondisinya yang berbaring, ia mengepalkan tangannya dan berpegangan ke sprei kasur itu.


“Ka…kau sen…sendiri si…siapa? K..kau…ti…dak akan mm…membu…nuhku k..kan?”

“Tidak…kenapa kau ketakutan?”

“Aa…akk…ku…tt…ak…ut…”

“…”

“Kk…au…ngh!”


Mia yang masih tampak ketakutan tampak memaksakan diri. Bibirnya terlihat kering. Desta langsung menyodorkan minum. Setelah bangun dan meminum air itu, pandangan Mia tampak lebih jelas sekarang. Ia lega, laki-laki yang ada di hadapannya bukan laki-laki yang menculiknya di kampiun militer. Mia merasa lega, namun kondisinya belum pulih, lalu ia menunjuk semangkuk bubur yang ada di meja.


“Maa…kan…aku…mau makan…”


Rika langsung membawakan dan hendak menyuapi Mia. Berpikir bahwa yang di hadapannya adalah pelayannya dulu di rumah, ia langsung terperanjat.


“Kiara…bukannya kita nggak pernah punya pelayan laki-laki?”

“Ini Shiroi.” Kata Rika kemudian.

“Shii…ro…?”

“Dasar bodoh! Dia nggak akan ingat tahu!” Sela Shiroi, membuat Mia melihat mereka dengan penih kebingungan.

“Aa…nu…?”

“…”

“Ngh!”

“Mia?” Desta meraba bagian kepala Mia yang masih terasa bagai membeku.

“Ss…Siapa kau?”

“Desta…yang ini Rika…yang ini Shiroi…kami semua temanmu.”

“Aku tidak satu sekolah dengan kalian…” Nada bicara gadis itu mendadak penuh tanya.

“Mia…kami teman sekelasmu…kamu kelas satu di sekolah menengah atas…mengerti?”


Mia menggeleng. Lalu ia tampak mempertanyakan sesuatu. Ia menekan pinggir tempat tidur.


“Piano?” Tanya Desta, Mia mengangguk.

“Itu ada di rumahmu…”

***

Di perjalanan…

Ibu angkat Mia terus menatap bahu jalan dengan perasaan campur aduk. Sementara suaminya menyetir dengan agak terburu-buru. Rasanya, baru kemarin ia menyaksikan “perkembangan” anak angkatnya dan sekarang, ia terpaksa harus mengulangi semuanya dari nol, dari saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.


“Nyonya besar?”

“…”

“Anda…”

“Tidak, aku tidak apa-apa…”


***


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda mengenai posting di atas, terima kasih :)